Renjana Luka

Oleh: Masadi Wiria

Dinda bercermin, menatap bilur-bilur merah di sekujur tubuh. Ujung jarinya mencoba menyentuh, tetapi ada rasa pedih menekannya. Dari sudut matanya meleleh, entah tangisan yang keberapa kali. Dinda tidak mampu merintih, seolah Tuhan sudah membekap mulutnya dan malaikatpun berkata kepadanya agar tak perlu mengadu. Sebuah buluh bambu itu masih tersandar dipintu almari, sedangkan tali-tali plastik terserak dibawahnya. Sebuah tali masih terikat di sandaran kepala ranjang. Helaan nafas dan sesenggukan itu menyesakkan, ketika mata Dinda tertuju kepada Tika dan Rama yang tergolek pulas di ranjang. Anak-anak itu sepertinya sudah lelah bila harus pulang pergi ke rumah neneknya. Dinda telah menyimpan lembaran-lembaran kesakitannya kedalam kerling mata beningnya.

“Plakkk”

Sebuah tamparan singgah di pipi Dinda.

“Dasar lonte!”

“Apa kamu tidak diajari cara-cara menghormati suami! Hehh!”

“Sekali lagi kamu mengadu pada bapakmuuuu”. Kata-kata itu berlanjut dengan tangan kekar yang sudah mencengkeram geraham Dinda kuat-kuat. Gemeretak gigi yang terantuk itu lirih terdengar. Lalu perempuan itu terdorong jatuh menimpa ranjang dimana Tika dan Rama terbaring pulas. Gelegar suara pintu itu mengejutkan anak-anak itu yang serta-merta tergeragap dan menghampiri ibunya yang sedang susah payah bangkit. Mereka menangis sesenggukan dalam pelukan. Airmata membanjir. Sementara sayup-sayup terdengar decit ban mobil meninggalkan halaman rumah.

***

Derai tawa perempuan-perempuan penghibur itu semarak. Beberapa botol bir berserakan. Alunan musik terus membuat tubuh-tubuh molek mereka bergerak-gerak seperti ular meliuk dan melingkar di badan Prastowo. Sesekali ciuman mendarat liar, ketika lelaki itu mengulurkan lembaran uang. Biasanya pesta itu akan berakhir di kamar belakang kafe.

“Sadis dia itu!” gumam seorang perempuan yang tak henti-hentinya menyedot rokok.

“Tapi asyik juga? Istrinya pasti sudah hancur lebur” lanjutnya sambil cekakak-cekikik.

Seorang lelaki berperut tambun itu terkapar di ranjang, sementara kedua perempuan itu asyik berbicara tanpa mempedulikan lagi lelaki yang sudah mabuk berat. Dengkurannya memenuhi ruangan, sementara kedua perempuan itu menguras isi dompetnya dan meninggalkan pesan dalam secarik kertas, lalu pergi.

Ruangan kantor tak bisa meredam kesakitan hati Dinda. Tugas-tugas yang menumpuk disudut meja membuatnya semakin sesak. Deringan telepon, SMS yang datang mengganggu. Namun semua harus tampak baik-baik saja. Senyum manis kepada setiap muka. Senyum yang terpaksa. Sampai kapan?

“Hidup ini aneh?”

“Iya”

“Bagaimana tidak aneh, salahku apa? Kenapa wong cuma ingin berselingkuh saja aku harus dihajar habis-habisan begini Ndra!”

“Aku rela kok tanpa dia!”

“Husss, jangan begitu Da, tidak baik”

“Ah, kamu tidak mengalaminya, jadi bisa saja berkesimpulan seperti itu? Kamu mau bukti?”

Dinda melepas semua bajunya dan Andra dibuat terperangah, mulutnya menganga.

“Astaghfirullaahhh, Da”

Keduanya saling berpelukan, sementara Dinda menumpahkan tangisnya kepada sahabatnya sebangku di SMA. Punggung Dinda bergetar-getar, tumpahan tangisnya begitu hebat. Memang selama ini Andra belum secara gamblang melihat kenyataan yang dialami Dinda, namun begitu rasa penasarannya memaksa dirinya untuk segera menemui sahabatnya itu di metropolitan ini.

Perjalanan untuk menuju rumah Dinda membutuhkan waktu 4 jam, namun hal itu tak membuat Andra merasa lelah karena sahabatnya sedang membutuhkannya. Terbukti saat ini. Ketika airmata Dinda membasahi punggungnya. Andra merasa bagaikan sebuah aliran yang harus tumpah dan mengalir. Pertemuan itu adalah sebuah permulaan dimana Dinda harus segera mengambil keputusan.

Bila teringat saat itu, perkenalannya terlalu banyak basa-basi. Tidak to the point. Lelaki yang selalu bermuka manis itu hadir menembus hatinya yang kosong karena terpaksa. Kalau saja saat itu Dinda tidak takut kualat karena menolak paksaan orang tua. Pasti Dinda akan melempar wajah manis itu dengan asbak. Sayang, aturan itu seperti belenggu yang melemahkan.

Lamaran itu berakhir dengan senyum mengembang, dan linangan airmata bahagia dari keluarga kedua belah pihak. Dinda tertunduk dalam kebimbangan. Kebahagiaan saat itu seperti moncong senapan dan dirinya adalah pesakitan yang siap menerima tembusan peluru kapan saja dan tepat sasaran. Betapa tatakrama mampu membungkus niat busuk menjadi sebuah bingkisan yang indah. Demi sebuah martabat. Martabat yang meruntuhkan harkat. Bahwa Dinda tidak memiliki hak jawab atau hak menolak, dan itu sebuah kesepakatan yang sulit untuk diterima dan dirinya teraniaya.

***

“Anjingggg! Hee matamu kemana?”teriak kakek tua yang mendorong gerobak sampah.

Aku terkejut, dan benar-benar terkejut ketika kaca spion kiri mobilku menampar muka kakek itu. Aku menghentikan laju mobil dan berniat turun. Tetapi keadaan tidak memungkinkan, karena jalanan kawasan Pasar Senen ini pasti akan macet ketika aku berhenti. Aku khawatir peristiwa ini diketahui oleh banyak orang. Meski aku tetap berusaha untuk meminta maaf atas keteledoranku. Tetapi jalanan tidak merespon niatku ini. Dari balik kaca spion, kakek itu tetap berjalan tanpa menggubris usahaku ini. Hati kecilku berharap semoga bapak tua itu memaafkanku.

Aku membanting setir ke kiri, mengambil jalur menuju ke arah Poncol. Aku akan mencetak disain-disainku dengan ukuran besar untuk pementasan baca puisi mengenang si Burung Merak. Aku memarkir mobil di seberang masjid. Siang hari yang menyengat itu sudah melumerkan isi kepala, aku salat Dhuhur untuk menciptakan energi kreatif yang mulai luntur.

Aku menginginkan banyak hal, namun banyak hal pula yang menghambatnya. Aku merasa terasing. Saat ini, aku rapuh tak bernyali. Aku harus segera bangkit dari keterpurukan, dari ketidakberdayaan. Untuk anak-anakku. Sungguh menyedihkan, karena aku harus terdampar di Sunda Kelapa ini. Pelabuhan harapan yang riuh rendah bagi siapa saja. Tumpah ruah, terperangah oleh pencakar langit.

“Dia mencoba menghambatku Ndra”

“Aku tercerai berai sekarang”

Dinda memandang kosong ke arah jendela, sementara Andra tak bergeming mendengar keluh kesahnya. Jalan terbaik adalah mimpi buruk. Hidup menjadi janda bukan pilihan. Perceraian paling tidak akan merubah statusnya, dan trauma tentang perkawinan adalah sebuah jalan panjang yang tak harus ditengok kembali. Tidak saja untuk dirinya, namun juga untuk Tika dan Rama kedua anaknya.

“Kamu itu orangnya super cuek, tidak pernah merasa canggung, mengapa mesti takut?”

“Hmm, aku tidak takut”

Andra tersenyum lebar. Dinda karibnya sudah mulai tegar dan keputusan sudah diambil. Meskipun berat namun pilihan itu lebih baik. Bukankah kaum perempuan bukanlah sandsak hidup?  Sungguh, Andra merasa prihatin dan tidak menyangka. Terbersit dalam pikirannya tentang dirinya yang masih melajang. Bahwa dihadapannya terbentang sebuah jalan yang panjang.***

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/15/renjana-luka/

 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: