Nyanyian Pasir

Oleh: Masadi Wiria

Sudi mengusap wajahnya usai berdoa dalam tafakurnya. Di atas sebuah batu yang di hantarkan Kali Putih, ia duduk menikmati bulan benderang. Sinarnya melukis rimbunan bambu di ujung desa. Kilau keemasannya menerpa batu-batu yang berserakan. Kini pucuk bambu itu sudah menusuk sang bulan. Malam mulai bergeser ketika wajah bulan tergambar sosok perempuan memadu kasih. Kadang seperti gambar sang ibu sedang bertutur pada buah hatinya. Pemandangan itu mengusik kerinduan Sudi pada simbok dan Tumi istrinya.

Perempuan berambut perak itu telah pergi, begitupun Tumi yang meninggalkan dirinya bersama Arum, perempuan kecil semata wayangnya. Hilang dalam nyanyian murka Merapi. Dalam taburan bintang yang berkerlip indah itu. Angin terdiam tak bergerak. Keindahan malam yang terjaga. Hati Sudi remuk. Perasaannya telah terkuras oleh hujan dan amukan lahar. Rasa penatnya tiba-tiba muncul.

Sesosok bayangan berkelebat ketika Sudi hendak beranjak. Matanya tak berkedip mengikuti bayangan yang kian menjauh dari pandangan itu. Kelebat yang gesit. Sudah kesekian kalinya, bayangan itu tertangkap matanya ketika bertafakur. Namun ia tidak mampu menangkap pesan dari bayangan itu.

Rasa dongkol menyeruak tiba-tiba, ketika ia melewati pangkalan truk untuk pulang. Sepasang manusia tengah asyik bergumul. Lelaki bertato naga itu muncul dari tirai yang tersingkap. Sudi melompong, lelaki tambun itu hanya lewat lalu melambaikan tangan. Gaung pengeras suara masjid mengumandangkan azan Subuh. Jalanan mulai ramai orang-orang pergi ke pasar.

“Gimana kabarnya, Kang Gino?”

Lelaki yang disapanya terdiam. Selepas salat Subuh keduanya bertemu setelah sekian lama berpisah karena Gino bekerja di Jakarta dan tidak ada kabar berita kecuali secarik undangan pernikahannya dengan orang Semarang. Setelah itu tidak ada kabar lagi. Kata orang-orang, Gino sudah menjadi ‘orang’ di Jakarta. Sementara Sudi tahu kalau Gino hanya bekerja menjadi sopir bis PPD.

“Remuk hatiku, malah kebawa sakit”

“Lha ada apa to Kang?”

“Kamu belum dengar ya? Aku kebakaran”

“Hah?”

“Iya, semua barang-barang ludes jadi arang. Sepuluh tahun aku mengumpulkannya, akhirnya tidak tersisa. Istriku selamat, tapi … Dedi …”

Kata-kata Gino terputus, lalu ia mengusap wajahnya untuk meredam kesedihannya.

“Cuma apa Kang?”

“Dedi, jagoanku meninggal. Tidak ada yang menolong, dia tak terselamatkan. Orang kayak kita ini kok nggak habis-habisnya diterjang derita?” lanjut Gino.

Sudi menghela nafas, pembicaraan terhenti. Mereka duduk-duduk di serambi masjid menunggu matahari terang.

Pembicaraan semakin kembali hidup ketika mengungkap nasib masing-masing. Nostalgia masa kecil, ketika keduanya di kejar-kejar pak Mantri mau disuntik, membuat keduanya tersenyum. Masa kecil adalah masa-masa terindah. Sudi pun bercerita bahwa dirinya cukup senang ketika melihat Arum tambah pintar. Relawan yang terjun di dusunnya itu patut dipuji. Tanpa kenal lelah, menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk anak-anak. Tidak hanya omong kosong atau mengumbar janji. Kesedihan orang-orang yang diterjang bencana ini butuh tindakan nyata.

Arum selalu ceria, sudah lupa bencana yang baru saja terjadi. Seolah menemukan ibunya kembali. Sementara kungkungan penderitaan belum juga berakhir. Dulu, sebelum ada relawan yang memberikan kegiatan pada anak-anak di pengungsian. Hampir setiap hari Arum terlihat murung teringat ibunya.Sementara keadaan dipengungsian, selalu memprihatinkan dan tidak pas. Apalagi bagi anak-anak. Tetapi mau apa lagi dan siapa yang mau memperhatikan?

Keadaan seperti ini tidak butuh lagi bantuan yang berlimpah-limpah. Karena pada hakekatnya bantuan bagi korban bencana bukanlah materi belaka. Semangat dan dorongan untuk tetap bangkit, terkadang lebih penting. Apalagi untuk anak-anak yang belum begitu paham dampak bencana dan pengaruhnya kehidupan mereka selanjutnya. Seperti kata orang-orang pintar di penyuluhan yang terkadang saling tuding soal tanggungjawab, bahkan malah suka melongo.

Kepulangan Gino di kampung halaman ini, sepertinya juga sedang mengais masa lalu. Tampaknya ia akan memilih pulang kampung saja. Hanya tergantung niat, karena istrinya sudah pasrah mau hidup dimana tidak masalah.

“Sudah satu minggu ini kok mataku seperti selalu melihat bayangan hitam ya?”

“Ooo itu katarak Di, priksa aja! Puskesmas”

“Katarak gimana? Maksudku kalo pas selesai salat malam di Kali Putih kok melihat kelebat bayangan hitam”

“Ah, itu pandanganmu aja. Atau barangkali simbokmu?”

Sudi terdiam, seolah menyadari bahwa dirinya jauh dari agama. Persoalan agama hanya didapat dari mbah Ngaliman, modin kampung yang pernah mengajarnya di langgar desa. Itupun Sudi tidak terlalu pandai, seperti juga Gino yang hanya mengenal huruf alif sama seperti dirinya tetap saja tidak bisa membaca huruf-huruf arab.

Ketika melihat amukan Merapi yang dahsyat terjadi. Awan panas yang meluncur bagaikan naga putih yang siap menelan siapa saja. Mengerikan. Kekuatan apakah yang mampu menahan murka alam yang dahsyat itu. Tenggorokan Sudi tercekat, ketika sirine meraung-raung. Orang-orang berhamburan keluar dalam kegelapan. Suara dan deru kendaraan yang lalu-lalang. Serta gemuruh Merapi yang menggetarkan itu menggemakan kebesaran Tuhan dalam dadanya.

Pantaslah, bila gunung yang telah memberikan keindahan, kesejukan, dan hasil-hasil bumi yang melimpah ini murka. Sederet peristiwa kembali terbersit dalam ingatan Sudi. Kepergiannya dengan Saniyem di losmen di ujung desa, menyisakan penyesalan. Dirinya membohongi Tumi, dan membuatnya kecewa lalu memilih terjun ke dalam arus Kali Putih? Begitu pula simbok yang sudah sangat lelah menjadi pengumpul batu untuk di pecah menjadi koral.

Matahari telah tinggi, kedua orang itupun beranjak dari masjid. Ada perasaan berat di hati Gino untuk mengakhiri pembicaraan. Namun Sudi harus segera bekerja, mengeruk lautan pasir dengan seroknya. Hanya Arum yang kini menjadi tambatan hati Sudi. Perempuan kecil itu sudah bersiap berangkat sekolah, ketika Sudi sampai di rumah.

“Bapaaak, Arum nanti langsung ke rumah Anjar lho bikin PR!”

“Ya, pulangnya ke rumah Lik Sur saja, bapak nanti sampai sore” jawab Sudi melihat anaknya sudah berjalan di ujung jalan.

Sudi menuju pangkalan truk yang sudah ditungggu kawan-kawan seprofesinya, segera ia melompat di bak bersama laju truk yang merambat menyusuri punggung jalan. Hari ini truk akan menuju Semarang, karena juragan pasir di Salam kekurang armada. Sudi terpaksa lembur untuk menurunkan pasir. Di langit mendung menggantung, menggumpalkan rasa cemas penghuni di bantaran sungai. Namun tak mengurangi semangat Sudi untuk bekerja, meski hatinya masih diselimuti pertanyaan tentang bayangan hitam di saat tafakurnya.

Malam itu Sudi teramat lelah, ia terbaring di batu besar yang terhampar. Ia menunggu Gino untuk saling berbagai cerita. Namun hingga tengah malam, Gino belum juga muncul dan tidak juga member kabar. Memang Sudi senang ketika Gino memutuskan untuk pulang kampung, karena ia akan merasa dekat dengan karibnya sejak kecil. Beban-beban yang dirasakan ketika sudah mulai beranjak tua, sepertinya harus bisa dibagi kepada karibnya, meski hanya saling diceritakan. Tiba-tiba Kali Putih memberi kabar, akan mengirimkan lahar. Peluit dan sirine relawan malam itu meraung, namun tidak terdengar oleh telinga Sudi. Seketika banjir itu menggulungnya. Tubuh Sudi tampak menjadi bayangan hitam yang terseret dan terpelanting menggapai-gapai lalu hilang di kegelapan.***

Dapat di baca juga di http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/24/nyanyian-pasir/

 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: