Abjad Cinta

Oleh: Masadi Wiria

Awan mendung di langit tidak mengabarkan turunnya hujan. Justru hanya hawa gerah menyelimuti siang. Hanya seperjalanan dari tempatku bekerja menuju kafe. Tetapi gerah sudah mulai menghadirkan tetesan keringat di kening. Saat jam istirahat, secangkir kopi mengantarkan kepulan asap rokok membumbung bersama angan-angan. Ruangan ini mutlak menjadi hak kaum perokok. Sementara diluar kaca aku melihat sebuah kehidupan tanpa asap. Beberapa impian menggelayut di kepala. Tentang teknologi mobil yang sudah meluncur di pasar. Atau aneka perangkat digital yang tumbuh menyerupai embun pagi yang mengkristal diujung-ujung daun dan rumputan. Aku menyeruput cangkir, untuk mendorong sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Aku yakin, bahwa rasa ingin menjadi bagian dari penikmat teknologi itu membuatku celegukan. Release sebuah lembaran iklan itu sungguh menggugah.

Beberapa koran hari ini tidak memberi jawaban atas kegelisahanku. Aku merasa tidak membutuhkan apa-apa. Aku hanya perlu duduk melompong dengan ekspresi kosong tak berjiwa. Dorongan untuk melamun memaksaku untuk menarik tirai jendela, sekedar menikmati pemandangan di bawah sana. Orang-orang menyemut dalam terpaan matahari siang yang tersaput mendung. Sepasang jari-jari mengapit cerutu Kuba, sesekali mulutnya bergerak-gerak. Cerutu naik turun berirama. Mulut itu sedang bercerita bahwa nasib baik itu ada. Berbicara tentang mimpi-mimpi kaum jelata. Tanpa sedikit jeda. Sajian film siang dari TV Plasma di kafe menyita perhatianku. Film tentang kehidupan mafia ini sudah banjir darah. Seorang pengikut setia sedang terkapar. Kejujuran adalah sikap-sikap orang bodoh yang tidak mengerti bahwa dunia ini adalah sebuah permainan belaka.

Seruputan kopi terakhir, mengantarku menghabiskan jam istirahat. Aku segera kembali ke kantor, bergabung bersama ratusan kepala dengan berbagai ekspresi. Ada juga yang selalu mengernyitkan dahi, entah pusing atau bawaan sejak lahir. Itupun masih ditambah status dalam akun facebook yang terkadang membingungkan, karena hanya hal ihwal keluh kesah yang tak berkesudahan. Hiruk-pikuk di kantor terjadi. Setelah melihat berita tentang gempa bumi yang terjadi di Jepang. Semua orang memantau televise dengan berbagai perasaan.

Aku masih bertahan di meja kerjaku, hingga tanpa terasa malam mulai merambat naik. Lampu-lampu mobil berpendaran saling berpapasan. Mataku silau karena memang seharian kelelahan di depan laptop, untuk pekerjaan yang tidak memiliki kualitas hari ini. Aku pikir, selama ini barangkali banyak hal serupa yang dialami juga oleh beberapa orang. Tidak ada yang cukup bermakna. Akun facebook terpaksa aku tutup, karena sama sekali aku tidak merasakan kemanfaatannya, bila hanya mengkomentari seputar keluhan-keluhan pribadi yang terkadang aku tidak mengerti sebab musababnya. Namun mengapa hampir semua orang terlibat dalam hal ini. Sungguh menakjubkan. Setelah berlama-lama aku menatap layar laptop, justru semakin membuat tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi untuk membuat sebuah perubahan yang cukup berarti.

“Ada berita apa dari Hana?”

SMS Robby membuatku lemas, dan aku belum menemukan kata yang tepat untuk menjawab. Aku menggeleng, ponsel Hana sudah tidak bisa dihubungi lagi. Aku mencoba online melalui Yahoo Mesengger namun tidak menemukan tanda-tanda online. Gempa bumi itu  akhirnya dapat ditengarai memiliki skala yang cukup mendebarkan yakni 9,1 SR. Setelah itupun, terjangan arus tsunami terjadi menimpa apa saja. Tidak memilih sasaran. Aku masih melihat tayangan Headlines News yang menayangkan ulang peristiwa itu.

Robby tidak tahu bila saat ini aku sedang berada di Jakarta. Mobil-mobil terhanyut itu seperti cendol. Juga kapal-kapal mewah yang terbawa arus. Mengalir dan menabrak apa saja. Kerusakan yang terjadi sangatlah parah. Kejadian itu sungguh mencengangkan. Aku belum teringat oleh Hana. Baru kemudian aku tergeragap untuk menjawab SMS Robby itu. Hana memang berada di Jepang tetapi aku tidak tahu di bagian mana dia berada. Sedangkan Robby adalah calon suami Hana juga karibku.

“Rob, aku sekarang lagi di Jakarta”

“Oh,  bagaimana dengan Hana?”

“Maaf Rob, aku juga tidak dapat menghubungi”

Suasana menjadi hening, meski ponsel belum dimatikan. Aku merasakan sesuatu yang saat ini menyergap perasaan Robby. Hana memang sedang berada di sana. Aku biasa berkomunikasi dengan Hana melalui YM dan Facebook saja meskipun aku berada di Kanada atau di Jakarta. Aku dan Hana dulu satu angkatan ketika bekerja di Taiwan. Setelah masa kontrak habis, aku berpisah karena dia ingin bekerja di negeri Sakura. Sedangkan aku memperoleh pekerjaan di Kanada. Robby adalah laki-laki yang jujur, meskipun sudah punya dua anak. Hana mencintainya. Kisah cintanya diawali ketika keduanya bertemu di dunia maya melalui chating, hingga berujung keduanya sepakat untuk menikah.

Namun untuk menunggu kabar adalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Apalagi dalam situasi darurat, dimana komunikasi memang menjadi sulit.

“Tenang dulu Rob, tunggu saja keadaan normal”kataku

“Tapi perasaanku sudah tidak enak”

“Sejak kapan?”

“Sejak kemarin, ketika aku tidak mengangkat telepon karena aku lagi di jalan. Kamu tahu to, aku ini hanya seorang sales yang kerjanya mengukur jalan. Aku pikir biasanya bukanlah hal-hal penting, ya semacam rasa kangen saja, hingga aku tidak telpon balik”

“Terus?”

“Ya itulah, aku sudah berkali-kali hari ini mencoba telepon tetapi tidak bisa juga, keluarganya juga sudah meneleponku, aku benar-benar panik. Beberapa temannya juga tidak bisa dihubungi”

“Sudahlah, sabar dulu Rob”

“Aku sudah mencoba bersabar, tapi perasaanku …”

“Alah, sudahlah Rob, jangan ikuti perasaan. Aku paham, sudahlah”

Aku mencoba menasehati Robby meskipun hal semacam ini aku belum pernah merasakan. Satu bulan lagi mereka akan menikah, dan sekarang komunikasi keduanya terputus. Harapan satu-satunya hanya menunggu jaringan komunikasi pulih, serta menunggu informasi dari KBRI melalui televisi. Sebuah usaha yang paling mungkin dilakukan oleh Robby. Untuk berangkat ke Jepang bagi Robby merupakan sebuah impian. Hal itu tidaklah mungkin. Kecuali sebuah bulan madu yang telah Hana ceritakan kepadaku itu terlaksana.

Hana memang berencana mengajak Robby untuk berbulan madu di Jepang. Meski hal itu masih disimpannya, agar menjadi kejutan. Aku pun diminta untuk tidak menceritakan hal itu sampai tiba waktunya. Memang Hana sangat mencintai Robby yang pekerja keras, meski gagal dalam rumah tangga. Setelah Hana menganalisa, keadaan Robby lebih disebabkan oleh faktor istrinya yang kurang menerima keadaan Robby. Juga mertua Robby yang seolah mendorong anaknya untuk segera mengakhiri perkawinan anaknya dengan Robby. Membiarkan perselingkuhan anaknya dengan manajer dimana istri Robby bekerja. Sebagai laki-laki, perasaan Robby sangat terpukul, meskipun ia pendam. Walau akhirnya harus bercerai, Robby merasa bukanlah sebuah kekalahan. Dia tetap memiliki semangat yang membaja untuk bangkit dari keterpurukan hidup. Bekerja dengan segala daya dan upaya.

Kali ini aku benar-benar larut dalam persoalan Robby. Rasa penyesalannya karena tidak menelpon ulang itulah yang membuatnya gelisah. Karena saat ini kenyataannya hal yang tadinya sangat mudah, menjadi sangat sulit dan sangat dibutuhkan. Perasaanku teraduk-aduk, dan hal ini memancing emosiku untuk mengirimkan SMS kepada Herman. Aku takut hal ini terjadi padaku. Meski aku sudah menduga takkan terjadi apa-apa pada Herman, karena dia tidak berada di Jepang. Perasaanku larut dalam emosi sesaat ketika komunikasi menjadi sebuah kebutuhan yang vital bagi manusia. Lebih tepatnya dua manusia. Robby dan Hana, aku dan Herman.

Meski kedua hal ini tidak saling berhubungan, namun aku merasa terusik. Bukankah disaat mudah, orang cenderung mengabaikan? Ketika disaat sulit dan dibutuhkan selalu kelimpungan. Memang aku lama tidak berkomunikasi dengan Herman. Terlebih ketika dia sudah mulai jarang online. Aku pikir kemunduran dirinya dalam dunia maya ini adalah sebuah pernyataan bahwa dia berganti ID atau sudah mendapatkan yang lain. Sedangkan menurutku nomor telepon hanyalah sebuah angka-angka yang membuat hati selalu berdesir bila membacanya. Memang aku sering menampik bila kemudian ada yang mengatakan bahwa aku sedikit atau banyak ada rasa dengannya. Namun aku terlalu yakin bahwa tanpa kehadirannya aku dapat hidup, dan bahagia.

Tetapi mengapa aku sekarang gelisah? Adakah rasa cinta itu kemudian membuncah? Ungkapan konyol. Aku mulai memencet keypad dan terteralah sebuah nama Herman Susilo. Tanpa pikir panjang aku memanggilnya. “Maaf nomor yang anda hubungi tidak aktif … Tuuutssss”. Busyet! Tepat dugaanku, dia memang sedang berusaha menipuku. Dari chating terakhir yang aku lakukan dia tidak benar-benar serius. Sekarang pekerjaan rumahku menjadi ganda. Antara menunggu kabar tentang nasib Hana, juga mencari tahu tentang Herman yang selama ini masih mengganggu perasaanku.***

Dapat juga di baca di http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/14/abjad-cinta/

 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: